<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anjas Wijanarko</title>
	<atom:link href="http://anjaswijanarko.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anjaswijanarko.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 May 2013 13:25:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>The Late Flight</title>
		<link>http://anjaswijanarko.net/essai-the-late-flight/</link>
		<comments>http://anjaswijanarko.net/essai-the-late-flight/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 03:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anjas Wijanarko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essai Photo]]></category>
		<category><![CDATA[Memotret Yuk]]></category>
		<category><![CDATA[Street Photography]]></category>
		<category><![CDATA[black and white]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[hitam putih]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anjaswijanarko.net/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Menunggu keberangkatan pesawat memang menjemukan. Apalagi kalau terlambat sampai beberapa jam. Untuk membunuh waktu, saya mengaktifkan kamera poket saya dan mulai memotret apa yang melintas di depan saya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menunggu keberangkatan pesawat memang menjemukan. Apalagi kalau terlambat sampai beberapa jam. Untuk membunuh waktu, saya mengaktifkan kamera poket saya dan mulai memotret apa yang melintas di depan saya. Saya menggunakan kamera Panasonic LX-5 (prosumer) dengan stelan intelegence automatic, untuk mode saya stel B/W (hitam putih) untuk mengeliminasi warna yang kadang tidak menyenangkan. Disinilah keuntungan membawa kamera poket. Bentuknya yang kecil dan bisa disetel bunyi tombol rana-nya hingga saya bisa menggunakannya tanpa menarik perhatian orang.
<a href='http://anjaswijanarko.net/?attachment_id=377' title='STREET Late Flight 005'><img width="640" height="426" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/05/STREET-Late-Flight-005.jpg" class="attachment-large" alt="Lumix LX-5 | Intelegence Automatic | Color Set To B/W" /></a>
<a href='http://anjaswijanarko.net/?attachment_id=375' title='STREET Late Flight 003'><img width="640" height="426" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/05/STREET-Late-Flight-003.jpg" class="attachment-large" alt="Lumix LX-5 | Intelegence Automatic | Color Set To B/W" /></a>
<a href='http://anjaswijanarko.net/?attachment_id=374' title='STREET Late Flight 002'><img width="640" height="426" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/05/STREET-Late-Flight-002.jpg" class="attachment-large" alt="Lumix LX-5 | Intelegence Automatic | Color Set To B/W" /></a>
<a href='http://anjaswijanarko.net/portfolio-item/the-late-flight/street-late-flight-001/' title='STREET Late Flight 001'><img width="640" height="426" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/05/STREET-Late-Flight-001.jpg" class="attachment-large" alt="Lumix LX-5 | Intelegence Automatic | Color Set To B/W" /></a>
<a href='http://anjaswijanarko.net/?attachment_id=372' title='STREET Late Flight 006'><img width="640" height="426" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/05/STREET-Late-Flight-006.jpg" class="attachment-large" alt="Lumix LX-5 | Intelegence Automatic | Color Set To B/W" /></a>
</p>
<p>Foto-foto ini saya ambil ketika penerbangan diinformasikan akan terlambat sekitar 3 jam. Saya memanfaatkan selasar luar lorong Gate 5 Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta untuk merokok sekaligus mengambil momen yang melintas di depan saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anjaswijanarko.net/essai-the-late-flight/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Megalitikum Watu Kandang</title>
		<link>http://anjaswijanarko.net/situs-megalitikum-watu-kandang/</link>
		<comments>http://anjaswijanarko.net/situs-megalitikum-watu-kandang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 14:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anjas Wijanarko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hunting Bareng]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hunting bareng]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[prasejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anjaswijanarko.net/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[Situs Watu Kandang merupakan situs peninggalan jaman pra sejarah yang terletak di Dukuh Ngasinan Lor, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Situs tersebut berupa tatanan batu-batu alam yang teratur dan diduga merupakan tinggalan jaman Megalithikum (2500 – 1500 SM).]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Udara sejuk langsung menyergap ke seluruh permukaan kulit. Bulir-bulir embun sesekali menyapa di tengah hangatnya sinar matahari pagi. Cuaca Dukuh Ngasinan Lor tampak cerah hari ini dan merupakan saat yang tepat untuk menutupi rasa penasaranku akan sebuah obyek purbakala yang dulu sering aku lewati, Situs Watu Kandang.</p>
<p style="text-align: justify;">Situs Watu Kandang merupakan situs peninggalan jaman pra sejarah yang terletak di Dukuh Ngasinan Lor, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Situs tersebut berupa tatanan batu-batu alam yang teratur dan diduga merupakan tinggalan jaman Megalithikum (2500 – 1500 SM).</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="img-prettyPhoto alignleft" style="width: 300px; max-height: 450px; max-width: 100%;" title="" href="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/04/ARTIKEL-Watu-Kandang-002.jpg" data-rel="prettyPhoto"><img class="alignleft scale-with-grid size-full wp-image-337" alt="ARTIKEL - Watu Kandang 002" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/04/ARTIKEL-Watu-Kandang-002.jpg" width="300" height="450" /></a>Orientasi Watu Kandang ini ke arah Barat dan Timur, dimana sebelah timur berhadapan dengan Gunung Lawu, Bangun,dan Ganoman. Maka dari itu bisa disimpulkan batu-batu ini sebagai tempat pemujaan kapada alam semesta terutama menyembah gunung-gunung tersebut. Hal ini menunjukan pada masa itu, orang sudah pempunyai pandangan tertentu terhadap Roh atau Dewa. Mereka mulai mempunyai pandangan hidup yang tidak berhenti setelah orang itu meninggal. Orang yang meninggal dianggap pergi kesuatu tempat yang lebih baik, dan orang yang sudah meninggal masih dapat dihubungi pada orang yang masih hidup didunia ini begitu sebaliknya. Bahkan seseorang itu dianggap orang yang paling berpengaruh, maka selalu diusahakan agar selalu ada hubungan untuk dimintai nasehat atau perlindungan bila ada kesulitan terhadap kehidupan didunia. Hal ini bisa dilihat terhadap bentuk Watu Kandang yang menyerupai kubur batu dan menhir. Inti kepercayaan itu semua terhadap roh nenek moyang semakin berkembang dari zaman ke zaman, dan secara umum dilakukan oleh setiap masyarakat di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Upacara yang paling menyolok adalah upacara pada waktu penguburan, terutama bagi mereka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat. Pelaksanaan penguburan dilakukan dengan cara langsung maupun tak langsung di tempat yang sering dihubungan dengan asal-usul anggota masyarakat atau tempat-tempat yang sudah dianggap sebagai tempat tinggal arwah nenek moyang. Si mati biasanya dibekali bermacam-macam barang sehari-hati seperti perhiasan, periuk dan lain-lain, dikubur bersama-sama dengan maksud agar perjalanan si mati ke dunia arwah dan kehidupan selanjutnya akan terjamin sebaik-baiknya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="img-prettyPhoto alignright" style="width: 300px; max-height: 450px; max-width: 100%;" title="" href="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/04/ARTIKEL-Watu-Kandang-003.jpg" data-rel="prettyPhoto"><img class="alignright scale-with-grid size-full wp-image-339" alt="ARTIKEL - Watu Kandang 003" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/04/ARTIKEL-Watu-Kandang-003.jpg" width="300" height="450" /></a>Kematian dipandang tidak membawa perubahan esensiil dalam kedudukan, keadaan ataupun sifat seseorang. Seseorang bermartabat rendah akan rendah juga kedudukannya di akhirat. Dan biasanya hanya orang-orang terkemuka atau yang telah pernah berjasa dalam masyarakat sajalah yang akan mencapai tempat khusus di alam baka. Tapi di pihak lain, jasa, amal atau kebaikan – yaitu bekal untuk mendapatkan tempat khusus di akhirat dapat diperoleh dengan mengadakan pesta-pesta tertentu yang mencapai titik puncaknya dengan mendirikan bangunan-bangunan batu besar (megalitik). Memberi atau menempatkan si mati di dalam tempat yang direka dengan bangunan batu-batu besar, seperti peti batu, mengelilingnya dengan batu-batu besar-tegak dengan hiasan-hiasan berukir maupun lukisan yang melambangkan kehidupan si mati dan masyarakatnya, hal ini akan memberi keuntungan pada kedua belah pihak yaitu yang mati dan yang ditinggalkan. Jadi batu-batu besar demikian menjadi pelindung bagi tingkat budi baik seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik (<em>mega</em> berarti besar, <em>lithos</em> berarti batu) selalu berdasarkan kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama kepercayaan kepada adanya pengaruh kuat dari yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman.</p>
<p style="text-align: justify;">BENTUK DARI WATU KANDANG</p>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li>Punden Berundak dimana Batu Kadang ini berdiri condong sehingga seperti punden berundak yang biasanya disembah sebagai nenek moyang mereka.</li>
<li>Menhir dimana bentuk dari salah satu dari Watu Kandang yang besar dan berdiri tegak seperti tugu, maka bisa diasumsikan bahwa Watu Kandang bisa jadi sebagai Tugu yang menurut mereka suci, dan sebagai tempat pemujaan roh-roh nenek moyang.</li>
<li>Dolmen dimana Watu Kandang itu membentuk seperti meja di tengah-tengah Watu Kandang yang lainya, maka bisa diperkirakan sebagai tempat meletakkan sesaji kepada roh nenek moyangnya.</li>
<li>Lumbung Batu yang mana Watu Kandang berbentuk besar dan melebar, ditengahnya berbentuk cukung dan dalam. Maka bisa disimpulkan salah sutu Wutu Kandang Juga sebagai tempat pengupasan kulit padi.</li>
<li>Gerabah dimana ditemukan berbagai manik-manik yang terbuat dari tanah liat disekitar Watu Kandang.</li>
<li>Manik juga ditemukan manik-manik kecil yang berbentuk Heksagonal, Tetragonal, Silinder, Cornder.</li>
<li>Kubur Batu yaitu kuburan atau tempat letak jenazah karena bentuk Watu Kandang yang membentuk persegi empat dengan ukuran batu dan jarak batu sama dan teratur membentuk sebagai tempat jenazah.</li>
</ol>
<div id="attachment_342" class="wp-caption aligncenter" style="width: 950px"><a class="img-prettyPhoto" title="Canon EOS 7D | f.10 | 1/16| ISO 100 | 17-40mm" href="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/04/BLOG-Landscape-N-Nature-WATU-KANDANG-01.jpg" data-rel="prettyPhoto"><img class="scale-with-grid size-full wp-image-342 " alt="Anjas Wijanarko Photography | 2013" src="http://anjaswijanarko.net/wp-content/uploads/2013/04/BLOG-Landscape-N-Nature-WATU-KANDANG-01.jpg" width="940" height="627" /></a><p class="wp-caption-text">Canon EOS 7D | f.10 | 1/16| ISO 100 | 17-40mm</p></div>
<h6 style="text-align: center;"> SUMBER : Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka, 1977 | wahyugituloooh.blogspot.com | Thanks to : Agustinus Heru Putranto.</h6>
<h6 style="text-align: center;">Tulisan ini pernah di publikasikan dalam &#8220;The Hidden Village&#8221;</h6>
<h6 style="text-align: center;">Semua foto karya Anjaswijanarko</h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anjaswijanarko.net/situs-megalitikum-watu-kandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fotografi Dan Digital Imaging</title>
		<link>http://anjaswijanarko.net/fotografi-dan-digital-imaging/</link>
		<comments>http://anjaswijanarko.net/fotografi-dan-digital-imaging/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2013 02:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anjas Wijanarko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oldig Yuk]]></category>
		<category><![CDATA[digital imaging]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[karya seni]]></category>
		<category><![CDATA[photoshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anjaswijanarko.net/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Dalam menilai sebuah foto kita sering mendapat pertanyaan : ini murni karya foto atau olah digital. Pertanyaan itu sering kita dengar karena seolah-olah ada pemisahan yang sangat jauh antara fotografi dan olah digital.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam menilai sebuah foto kita sering mendapat pertanyaan : ini murni karya foto atau olah digital. Pertanyaan itu sering kita dengar karena seolah-olah ada pemisahan yang sangat jauh antara fotografi dan olah digital. Oke, sekarang kita coba lihat satu persatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di jaman modern sekarang ini semuanya serba digital, termasuk kamera yang banyak kita jumpai (meski masih ada yang pakai analog). Ketika kita menggunakan kamera digital, dalam kamera itu sudah ada banyak program pengolahan foto sederhana seperti white balance, picture style dan lain sebagainya. Karena file yang didapat itu digital, maka sayapun menyebutnya <i>olah digital</i>. Dan ketika kita pakai komputer untuk pengolahan, meski sekedar resize atau brightness contrast, kita tidak menggunakan lagi menggunakan kamar gelap, tapi photoshop. Maka sayapun menyebutnya <i>olah digital</i>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kita orang membicarakan <i>digital imaging</i>, maka kita perlu membedahnya lagi. Ketika kata “imaging” merujuk pada “persepsi”, maka saya lebih setuju bahwa digital imaging adalah persepsi yang terbentuk dari pengolahan digital.</p>
<p style="text-align: justify;"> <strong>Fotografi Dan Digital Imaging</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang kita ketahui bahwa fotografi adalah “melukis dengan cahaya”, artinya cahaya adalah elemen yang tidak bisa dipisahkan dari fotografi. Cahaya di sini adalah cahaya yang kita kenal sehari-hari yang bersumber dari lampu atau sinar matahari. Meskipun alat yang kita gunakan adalah kamera digital ataupun analog, selama kita masih menggunakan cahaya tersebut sebagai pembentuk imajinasi, maka saya lebih suka tetap menyebutnya sebagai fotografi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lain halnya dengan digital imaging. Karena berkaitan dengan “persepsi” yang ditimbulkan secara digital, maka tidak ada lagi keharusan untuk menggunakan cahaya sebagai elemen yang tidak terpisahkan. Efek-efek cahaya yang ditimbulkan sebenarnya bukan dari cahaya yang kita kenal, namun hanyalah efek digital yang membuatnya “seolah-olah bercahaya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari dua gambaran di atas maka tampak jelaslah perbedaannya, bahwa fotografi harus melibatkan cahaya seperti yang kita kenal saat ini, sementara digital imaging sudah tidak mengharuskan itu. Salah satu program digital imaging yang sudah tidak memerlukan cahaya tapi bisa membuat efek seolah-olah bercahaya diantaranya 3D Studio Max, AutoCad, Maya, dsb.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Antara Fotografi dan Photoshop</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali orang meragukan originalitas sebuah karya foto karena program photoshop. Pertanyaan itu mungkin tidak salah mengingat sebagian besar orang berpresepsi bahwa photoshop bisa digunakan untuk segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang pernah berproses (paling tidak secara teori) di kamar gelap (sekedar tahu saja, jaman dahulu kala ketika kamera analog masih berkuasa bahwa kamar gelap adalah ruang untuk pemrosesan foto analog), akan tahu bahwa sebenarnya photoshop tidak lebih dari “digitalisasi kamar gelap”. Fungsi <i>burning, dogding, white balance</i> bahkan sampai <i>montage </i>(penggabungan dua foto atau lebih) bisa dilakukan jaman analog melalui proses kamar gelap. Hanya saja ketika proses kamar gelap yang berpengaruh adalah jenis film, jenis kertas, larutan kimia dan proses penyinaran dalam kamar gelap. Sedangkan di photoshop hanya dilakukan di satu tempat bernama komputer tanpa tetek bengek yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, dari uraian di atas, bahwa originalitas sebuah karya foto ketika sudah melalui proses editing di photoshop, asal masih menggunakan cahaya sebagai elemen utama ketika membuat karya tersebut, adalah sah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sedikit Catatan Tentang Olah Digital</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pengalaman saya, photoshop memang bukan segala-galanya meskipun penting. Secanggih apapun kita mengoperasikan photoshop kalau foto kita jelek maka output yang dihasilkanpun tidak akan bagus. Apalagi berkaitan dengan <i>angle, depth of filed</i> dan komposisi, cukup sulit diolah melalui photoshop. Saran saya, belajar dan matangkan kemampuan fotografi anda dulu. Seperti air yang dimasak, mau dibikin teh atau kopi tergantung kita meramunya, asal airnya sudah bagus duluan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anjaswijanarko.net/fotografi-dan-digital-imaging/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Pagelaran Matah Ati</title>
		<link>http://anjaswijanarko.net/belajar-dari-pagelaran-matah-ati/</link>
		<comments>http://anjaswijanarko.net/belajar-dari-pagelaran-matah-ati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Mar 2013 06:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anjas Wijanarko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hunting Bareng]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[hunting bareng]]></category>
		<category><![CDATA[tata pentas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beta.anjaswijanarko.net/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Saya kagum ketika menghadiri mega pentas Matah Hati yang digelar di Pamedan Mangkunegaran, Solo. Bukan masalah pertunjukkannya yang sudah sejak awal saya yakin bakal luar biasa sebagaimana karya artistik Jay Subiyakto lainnya, tetapi masalah manajemen penonton.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hai Kawan,</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kagum ketika menghadiri mega pentas Matah Hati yang digelar di Pamedan Mangkunegaran, Solo. Bukan masalah pertunjukannya yang sudah sejak awal saya yakin bakal luar biasa sebagaimana karya artistik Jay Subiyakto lainnya, tetapi masalah manajemen penonton.</p>
<p style="text-align: justify;">Diawali dengan pembagian kelas undangan berbayar dan undangan tidak berbayar yang menurut saya sangat penting sekali dalam filterisasi penonton. Harga tiket yang tidak murah bagi ukuran warga Solo, yaitu Rp. 750.000 untuk kelas VVIP, Rp. 450.000 (VIP) dan Rp. 250.000 (Kelas I) bukanlah semata-mata untuk mengejar keuntungan. Dengan nilai biaya produksi yang miliaran rupiah dan kualitas pertunjukkan yang memang berkelas internasional membuat saya yakin bahwa harga tersebut adalah untuk menyaring tingkat apresiasi penonton.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang tidak mudah adalah filterisasi untuk penonton undangan kelas festival yang dibagikan secara gratis. Pada pertunjukkan-pertunjukkan besar yang pernah digelar di kota Solo, biasanya untuk filtering juga diberlakukan dengan sistem tiket meski bisa diperoleh dengan gratis. Namun dalam pagelaran Matah Ati kali ini penonton yang menginginkan tiket gratis harus mengisi formulir dan melampirkan fotokopi KTP. Jumlah yang disebar pun tidak berlebihan, tapi terbatas dan disesuaikan dengan space yang ada untuk kelas festival. Meskipun sederhana, menurut saya kebijakan ini cukup efektif untuk filterisasi tahap pertama yang, paling tidak tidak ada lagi yang hanya iseng-iseng ingin menonton karena kemudahan akses.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada waktu pelaksanaan, pengaturan pintu masuk pun cukup efektif. Pamedan (semacam alun-alun kecil) yang mempunyai dua pintu akses dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa jalan yang menuju ke arah venue pertunjukkan sudah diarahkan sesuai dengan jenis tiket yang tersedia, sehingga arus lalu lintas penonton ketika di dalam venue bisa terkendali. Tampak sekali bahwa untuk arus lalu lintas penonton pun melalui tahap perencanaan dan pelaksanaan yang matang. Dengan demikian, dua belah pihak pun menjadi sama-sama merasa diuntungkan. Panitia bisa menyelenggarakan pertunjukkan dengan lancar, sementara penonton bisa menikmati pertunjukkan dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Desain panggung pertunjukkan Matah Ati dibikin bertingkat dan dihubungkan dengan lantai yang miring ke depan. Saya menilai pemilihan bentuk panggung seperti ini bukanlah semata-mata pertimbangan artistik saja, tetapi juga memikirkan kenyamanan penonton untuk menikmati pertunjukkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada barisan terdepan tempat duduk penonton adalah kelas festival untuk undangan gratis tanpa kursi, tetapi disediakan tempat lesehan yang nyaman berlapiskan karpet. Bibir panggung yang nyaris menyentuh tanah membuat membuat kesan antara penonton gratisan dengan panggung seperti tidak berjarak.</p>
<p style="text-align: justify;">Di belakang barisan penonton untuk undangan gratis terdapat tribun untuk penonton undangan berbayar. Tribun inipun dibikin berundak, sehingga penonton yang duduk di barisan belakang pun bisa menyaksikan pertunjukkan secara leluasa tanpa terhalang penonton yang duduk di depannya. Tentu saja pembagian tempat duduk di tribun ini sesuai dengan kelas tiket yang dimiliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Barisan paling belakang adalah barisan tribun untuk fotografer. Penyusunannya yang berundak juga membuat para fotografer leluasa untuk menyusun peralatan fotografinya. Hanya memang, jarak yang sangat jauh mengharuskan fotografer menggunakan alat yang tidak sederhana untuk mendapatkan gambar yang baik. Tapi bagi saya, hal tersebut juga filterisasi terhadap para fotografer. Bukan bermaksud melecehkan fotografer yang alatnya kurang memadai, namun harus disadari bahwa memotret sebuah pertunjukkan tentunya juga harus mempunyai alat yang sesuai.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pengalaman saya menyaksikan pertunjukkan Matah Ati pada hari pertama dan hari kedua, pertunjukkan ini nyaris sempurna. Tidak hanya pertunjukkannya yang memukau tetapi dari manajemen penonton pun sangat luar biasa. Perencanaan yang matang, eksekusi yang tenang sesuai rencana dan tentu saja, menganggap semua penonton adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah pertunjukkan. Bahkan saya melihat, di kelas manapun penonton dianggap sebagai tamu yang hendak disuguhi pertunjukan yang spektakuler. Dan seperti yang diduga, penonton pun bisa mengalir dengan tertib.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali saya dibuat kagum ketika MC mengumumkan dalam bahasa jawa halus (yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris), bahwa penonton diijinkan memotret meski dengan sederetan peraturan seperti tidak menggunakan lampu flash dan tidak boleh mengganggu penonton lain. Saya kira hal tersebut memang aturan yang umum bagi fotografer ketika memotret sebuah pertunjukkan. Sangat berbeda sekali dengan beberapa event yang pernah terjadi di Solo. Pada awalnya terjalin hubungan yang baik antara penyelenggara event di Solo dan fotografer amatir sebagai media partner. Namun ketika kegiatan fotografi menjamur, para fotografer dianggap berpotensi mengganggu jalannya event, terutama fotografer hobis dan amatir. Tanpa menyalahkan antara satu dengan yang lain harus diakui beberapa saat yang lalu pernah tercipta hubungan yang kurang harmonis antara pihak penyelenggara event dan para fotografer tersebut. Padahal sesungguhnya masing-masing pihak pernah merasakan efek baiknya ketika terjalin hubungan yang harmonis. Panitia mendapat promosi gratis melalui social media yang banyak dimiliki para fotografer sementara para fotografer bisa meningkatkan portfolio mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa mengecilkan arti panitia event-event besar yang digelar di Solo (saya pun memberi penghormatan yang setinggi-tingginya karena para panitia tersebut sudah mengorbankan waktu dan tenaganya), kita bisa belajar dari pentas Matah Ati bagaimana mengelola event dengan baik. Penyelenggara tidak hanya memikirkan bagaimana pementasan yang berbiaya tinggi, mengundang artis-artis luar negeri dan promosi yang besar-besaran saja, tetapi mengelola sebuah pertunjukan secara utuh, yaitu melibatkan (memikirkan) penonton sebagai elemen yang tak kalah penting dari pertunjukan itu sendiri. Sebuah pertunjukkan tanpa penonton bukanlah pertunjukan. Sementara diantara para penonton memang ada yang membawa kamera, tetapi semakin sering dan lama seseorang menggunakan kamera maka semakin bijak dan dewasa ketika menggunakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anjaswijanarko.net/belajar-dari-pagelaran-matah-ati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerjasama Fotografer Dan Model</title>
		<link>http://anjaswijanarko.net/kerjasama-fotografer-dan-model/</link>
		<comments>http://anjaswijanarko.net/kerjasama-fotografer-dan-model/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Mar 2013 05:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anjas Wijanarko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sesi Pemotretan]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[model]]></category>
		<category><![CDATA[profesional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beta.anjaswijanarko.net/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Konsep akan berjalan manakala antara fotografer dan model (serta tukang lampu bila ada) mampu bekerjasama dengan terbuka, mau berdiskusi dan memberi catatan terhadap konsep yang akan dilaksanakan. Dengan begitu ketika foto sesi dilaksanakan akan mengerti tugas masing-masing.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hai Kawan,</p>
<p style="text-align: justify;">Tadi pagi aku sempat dibuat uring-uringan karena ulah seorang model. Tanpa diduga dia berkata ketus kepadaku. &#8220;Saya tidak suka diarah-arahin.&#8221;, katanya. Langsung saja kuberesi perlengkapanku, dan memilih pulang tidak mengikuti sesi foto. Terus terang saja, sejak awal aku memang kurang nyaman dengan itu model. Dia datang sudah ribut melulu, yang kurang inilah kurang itulah. Kalau saja dia seorang model tersohor, mungkin aku bisa maklum, apalagi berhadapan dengan fotografer amatir kayak aku ini. Tapi, dia itu juga seorang <i>newbie</i> yang menurutku sama sekali tidak bisa berpose.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang kawan menegurku, bahwa tindakanku itu terkesan egois. Menurut dia, sebagai seorang guru sekolah yang berpengalaman dengan murid bandel, cara ngomong kita yang salah hingga membuat sang model merasa besar kepala dan tidak mau diatur. Meski ada benarnya, tapi menurutku ini hubungan kerja profesional yang masing-masing pihak harus mengerti tugas masing-masing, bukan seperti guru yang memang bertugas untuk mendidik siswanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pengalamanku sebagai seorang fotografer, adalah tugas fotografer untuk mengarahkan gaya seorang model. Apalagi berkaitan dengan konsep, seringkali justru fotografer pulalah yang mempunyai konsep di kepalanya. Konsep itu akan berjalan manakala antara fotografer dan model (serta tukang lampu bila ada) mampu bekerjasama dengan terbuka, mau mendiskusikan dan memberi catatan terhadap konsep yang akan dilaksanakan. Dengan begitu ketika foto sesi dilaksanakan akan mengerti tugas masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaitan dengan kejadian di atas, memang, bahwa konsep ini hanya latihan, terutama untuk memahirkan pemahaman aperture, speed dan lighting dalam pemotretan outdoor. Namun demikian komposisi tetap menjadi salah satu perhatian yang penting dalam sesi tersebut. Kemampuan model untuk berpose dan berekspresi bukanlah pemanis semata, namun menjadi elemen yang sangat penting. Model yang mahir tentunya sudah hapal bagaimana posisi tangan, kaki, kepala, pundak dan lain-lain. Tetapi model <i>newbie</i>, seringkali tidak sadar bahwa, mungkin saja, salah satu kakinya terpotong obyek lain, letak tangannya kurang pas dan semacamnya. Nah di sini tugas fotografer menolong model untuk mengarahkan agar pose model lebih pas dalam komposisinya, dan tentu saja menyumbang peranan penting dalam sebuah konsep.</p>
<p style="text-align: justify;">Kawan, dalam pengalaman saya, tidak jarang juga model merasa kurang puas atau merasa jatuh merk apabila difoto seorang amatiran. Tapi tak jarang juga model yang merasa sudah dipotret oleh fotografer terkenal menjadi angkuh dan sombong. Dalam kasusku ini lebih parah lagi. Si model memang pernah difoto oleh seseorang yang cukup menonjol di komunitasnya menggunakan lensa besar. Tapi sayang, sang model rupanya seperti katak dalam tempurung. Jagad dunia fotografi tidak sebatas dalam komunitasnya, tetapi untuk kelas kota Solo, fotografer tersebut masih dibawah rata-rata kawan yang lain di luar komunitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kawan, dari kasus ini kita banyak belajar. Banyak sekali model-model akhirnya bernasib apes. Tidak jarang pula model yang mempunyai modal yang cukup bagus diantara wajah cantik, body bagus, kulit mulus, tapi akhirnya harus tersingkir dari profesinya. Bagi saya, model bukan hanya jual tampang atau jual body saja, apalagi sampai untuk pemotretan kategori terbatas yang tidak jelas arahnya. Tapi hubungan relationship, kepribadian dan profesionalitas menjadi hal yang lebih penting. Model yang bisa bekerja secara profesional dan mampu menjaga hubungan dengan baik tentunya order akan mengalir semakin banyak. Fotografer pun tidak sayang untuk mengeluarkan biaya demi sebuah konsep yang ada di kepalanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anjaswijanarko.net/kerjasama-fotografer-dan-model/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pungutan Di Lokasi Pemotretan</title>
		<link>http://anjaswijanarko.net/pungli-di-lokasi-pemotretan/</link>
		<comments>http://anjaswijanarko.net/pungli-di-lokasi-pemotretan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Mar 2013 10:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anjas Wijanarko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hunting Bareng]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ijin lokasi]]></category>
		<category><![CDATA[sesi pemotretan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beta.anjaswijanarko.net/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum memotret sebaiknya kita survey dulu lokasinya. Dengan mengetahui jenis lokasi memotret kita bisa mempersiapkan kegiatan kita dengan baik. Paling tidak, kita bisa menghindari hal-hal yang bisa menurunkan mood atau bahkan menggagalkan kegiatan memotret kita.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hai Kawan,</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari yang lalu seorang teman mengeluh. Ketika sedang asyik memotret model di sebuah kawasan wisata umum tiba-tiba dia didatangi sekelompok pemuda bertampang preman. Tanpa malu-malu sekelompok pemuda itu, dengan setengah memaksa, meminta “iuran kas” yang jumlahnya cukup mengejutkan. Karena dirasa keterlaluan dan <i>over budgeting</i> akhirnya teman tersebut memilih pergi, mengurungkan niatnya untuk memotret.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya kejadian tersebut sering terjadi. Beberapa kawasan wisata seperti candi atau air terjun memang terkenal dengan “pungli”nya. Yang membuat kita dongkol, seringkali “pungli” tersebut tidak jelas besarnya dan kemana mengalirnya. Dan akhirnya, hal tersebut sering membuat kita <i>overbudgeting</i> dan puncaknya menurunkan mood memotret di tempat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kawan, sebenarnya kalau kita cermat kita bisa menghindari konflik seperti itu. Menurut hemat saya, sebelum memotret sebaiknya kita survey dulu lokasinya. Yang paling penting : siapakah pemilik/penguasa daerah tersebut?</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Milik Pribadi/Perseorangan : yang ini tentu saja kita tidak bisa seenaknya main foto di tempat tersebut. Kewenangan ijin sepenuhnya ditentukan oleh pemilik lokasi termasuk biaya-biayanya. Untuk itu diperlukan negosiasi. Meski kadang lokasi itu terlihat terlantar, tetapi kalau memang milik pribadi kita tidak bisa protes kalau disuruh bayar atau malah disuruh pergi. Tapi ada juga yang dengan senang hati mengijinkan dengan gratis bahkan turut membantu kegiatan pemotretan.</li>
<li>Milik Instansi/Pemerintah/Swasta : kadang kita tidak merasa bahwa sebuah lokasi seperti kantor atau gedung pemerintah, bangunan cagar budaya dan sejenisnya ada pengelolanya. Sebetulnya untuk tempat tersebut diperlukan ijin resmi dari instansi atau pemerintah. Namun seringkali kita <i>cross cut</i>, cukup ngasih tips penjaga, semuanya dianggap beres dan resmi. Padahal sejujurnya itu tidak resmi. Iya kan? Nah, mengenai pengurusan ijin tersebut, tergantung instansi masing-masing. Ada yang cukup lesan, tapi ada juga yang harus tertulis.</li>
<li>Milik Instansi/Pemerintah/Pribadi yang dikelolakan pihak ketiga atau dikelola untuk umum. Bentuk pengelolaan seperti ini biasanya di tempat wisata. Dan tentu saja tergantung pengelolanya, ada yang gratis, ada yang cukup bayar restribusi, atau kena biaya tambahan. Tetapi ada pula yang menganggap kegiatan kita adalah kegiatan komersial hingga diperlukan negosiasi lebih lanjut. Tak ada salahnya untuk tempat seperti ini kita meminta salah satu pengelola menjadi guide kita dan sekedar memberikan tips terutama untuk kawasan wisata yang luas seperti di pantai atau di air terjun.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Disamping ketiga tempat tersebut, ada tempat lain yang tidak jelas diketahui kepemilikannya dan siapa pengelolanya, seperti hutan perawan atau pantai terpencil. Nah untuk lokasi seperti ini, tidak ada salahnya kita <i>kulonuwun</i> aparat atau masyarakat terdekat. Saya kira, asal identitas dan tujuan kita jelas, kita tentunya diperbolehkan untuk memotret di daerah tersebut. Fungsi <i>kulonuwun</i> seperti ini untuk memudahkan antisipasi apabila ada hal-hal yang mengancam jiwa kita. Tak ada salahnya juga kita meminta salah seorang dari masyarakat sekitar untuk menjadi guide.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, Kawan, dengan mengetahui jenis lokasi memotret kita bisa mempersiapkan kegiatan kita dengan baik. Paling tidak, kita bisa menghindari hal-hal yang bisa menurunkan mood atau bahkan menggagalkan kegiatan memotret kita. Tidak perlu takut, asal kita datang dengan sopan dan <i>kulonuwun</i> dengan empunya tempat semuanya pasti diberikan jalan keluar dan akan memperlancar kegiatan kita. Bahkan tak jarang kita justru mendapatkan bantuan dari lingkungan sekitar lokasi memotret.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anjaswijanarko.net/pungli-di-lokasi-pemotretan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
